Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, February 27, 2014

Puisi, Dengan Rahmat Tuhan

Puisi, Dengan Rahmat Tuhan

Pada usia 27, kehidupanku kembali ke Saturnus
Sebuah liburan panjang tidak terdengar begitu buruk
Aku penuh rahasia yang terkunci rapat layaknya baja meleleh
Berlari dengan kekosongan

Kupikir aku tak cukup dan aku tak tangguh
Terbaring di lantai kamar mandi
Kita hidup di jalur serba salah 
Dan kumerasa semua itu kesalahanku 
Tak sanggup lagi aku menahannya

Dengan rahmat Tuhan (tak ada cara lain)
Kukuatkan diri (aku tahu kuharus bertahan)
Ku topangkan kaki
Menatap cermin dan memutuskan tuk bertahan
Takkan kubiarkan cinta meninggalkanku

Terima kasihku untuk saudariku
Yang tlah memaksa tuk sembulkan kepalaku dari air
Saat kenyataan terasa seperti pasir hisap
Kini setiap pagi, tak ada lagi pagi oh aku 
Akhirnya bisa melihat diri sendiri lagi
Akupun tahu aku sudah cukup tuk dicintai

Kini aku harus bangkit 
Biarlah alam raya membuktikan 
Yeah kenyataan akan membebaskanmu

Dengan rahmat Tuhan (tak ada cara lain) 
Kukuatkan diri (aku tahu kuharus bertahan)
Ku topangkan kaki
Menatap cermin dan memutuskan tuk bertahan
Takkan kubiarkan cinta meninggalkanku

Tak ada kata tidak
Tak ada jika atas nama cinta  
Atas nama cinta (atas nama cinta)
Seperti itu Tak ada kata tidak  
Aku takkan menyerah

Dengan rahmat Tuhan (tak ada cara lain)
Kukuatkan diri (aku tahu kuharus bertahan)
Ku topangkan kaki
Menatap cermin dan memutuskan tuk bertahan
Takkan kubiarkan cinta meninggalkanku
Puisi, Pecinta Legendaris

Puisi, Pecinta Legendaris

Di bawah bulan keperakan, suhu tropis
Kurasakan bunga lotusku mekar, mendekatlah
Kuinginkan energimu, kuinginkan auramu
Kaulah takdirku, mantraku

Dulu aku tak tahu bahwa aku bisa melihat sesuatu yang begitu jelas,
Dengan melihatnya lewat mata ketigaku
Dulu aku tak tahu, bahwa karma bisa begitu berharga,
Dan membawaku ke hidupmu
Mungkin inilah awal, dari sesuatu yang begitu ajaib malam ini

Antarlah aku ke sungai
Di bawah mentari yang berwarna kuning kemerahan
Ucapkan namaku seperti naskah
Buat jantungku terus berdetak seperti genderang

Pecinta Legendaris
Kita bisa jadi legendaris
Pecinta Legendaris
Kita bisa jadi legendaris

Tertulis dalam sejarah
Tertulis bersama, dalam keabadian, selamanya
Kau Cleopatra
Kau Juliet yang malu-malu
Apapun untuk cintamu, bergantung atau mati
Puisi, Khayal

Puisi, Khayal

Ku berlama-lama di ambang pintu
Jam beker berbunyi keras
Para monster memanggil namaku
Ijinkan kutinggal
Dimana angin akan berbisik padaku
Dimana tetes hujan ketika jatuh mengisahkan cerita

Di padang bunga kertasku
Dan awan permen dari lagu nina bobo
Aku berbaring sendirian berjam-jam
Dan saksikan langit unguku berterbangan di atasku

Jangan bilang aku tak tersentuh
Dengan kekacauan merajalela ini, kenyataanmu
Aku tahu betul apa yang ada di dalam naungan tidurku
Mimpi buruk, kubangun duniaku sendiri untuk melarikan diri

Di padang bunga kertasku
Dan awan permen dari lagu nina bobo
Aku berbaring sendirian berjam-jam
Dan saksikan langit unguku berterbangan di atasku

Ditelan suara jeritanku
Tak bisa berhenti karena rasa takut pada dusta
Oh betapa kurindukan mimpi tidur nyenyakku
Dewi cahaya khayalan

Di padang bunga kertasku
Dan awan permen dari lagu nin
Puisi, Badai

Puisi, Badai

Berdiri di kekacauan ini
Sebuah ketenangan
Angin perubahan dapat menghancurkan
Dan ini butuh banyak untukku
Tidak ada tempat untuk lari dan tidak ada alasan yang tersisa untuk menyembunyikan
Akan bertahan
Semua dinding disekitar dihancurkan
Sekarang aku bisa mendengar matahari terbit

Dikelilingi oleh semua yang aku inginkan
Tapi tidak ada yang ku butuhkan
Aku dibutakan oleh kemustahilan
Kehilangan semua kepribadian
Kadang-kadang apa yang paling kamu takuti adalah apa yang kamu butuhkan
Untuk menemukan jalan
Disekitar liku liku kehidupan yang dipelajari
Sekarang aku memiliki mata untuk melihat

Badai, badai
Terkadang salah satu cara untuk menghapus rasa sakit
Badai, badai
Terkadang salah satu hal yang akan membawa kamu kembali lagi

Memisakan racun omongan kosong
Tapi angin begitu kuat
Tapi sekarang aku bisa melihat di mana harta karun berada
Karena mereka hanya menghalangi pandanganku
Aku berputar ke bawah dan tidak tersadarkan
Harus menemukan jalan rumahku
Ada hati yang berdarah terjebak dalam diriku
Tapi bagaimana caraku untuk memecahkan batu

Badai, badai
Terkadang salah satu cara untuk menghapus rasa sakit
Badai, badai
Terkadang salah satu hal yang akan membawa kamu kembali lagi

Terkadang ku menangis, tanpa air mata
Dan terkadang kamu mencoba untuk memecahkan dinding-dinding
Dan merasakan cintamu
Dan aku datang kembali pada kehidupan
Ketika aku akhirnya menemukan jalan

Badai, badai
Terkadang salah satu cara untuk menghapus rasa sakit
Badai, badai
Terkadang salah satu hal yang akan membawa kamu kembali lagi

Tuesday, September 10, 2013

Kumpulan Puisi Sobat Adventure

Kumpulan Puisi Sobat Adventure

Sebuah puisi merupakan ungkapan perasaan atau pikiran seseorang yang dituangkan kedalam tulisan dalam satu bentuk ciptaan yang utuh. Puisi  juga merupakan sebuah imajinasi kata yang didapat dari sebuah kesadaran manusia baik berupa pengalaman atau pun sebuah gagasan. Dibawah ini merupakan kumpulan  beberapa puisi yang pernah saya buat. Semua puisi yang saya tulis sebagian besar menceritakan tentang keadaan dan keindahan alam. Berikut beberapa pusinya:
  • Keheningan Adalah Nyanian Yang Tiada Bertara
  • Putri Malam
  • Kusambut Senja Dan Kulepas Kepergianmu
  • Garut
  • Air Mata Langit
  • Bulan Separuh Di Demenjung Timur
  • Ketika Guntur Terbangun
  • Badai
  • Khayal
  • Pecinta Legendaris
  • Dengan Rahmat Tuhan

Friday, October 26, 2012

Puisi, Bulan Separuh Di Semenanjung Timur

Puisi, Bulan Separuh Di Semenanjung Timur

Ku habiskan malam
Berjelaga diri saksikan bulan separuh di sebuah surau
Telanjangi malam dibalik ketidak sempurnaan
Titik beku menghujam jantungku
Hentilan aliran darah dalam tubuhku

Kutuliskan lagu tentang hari ini
Ku tulis dengan tinta emas
Kan ku ukir sejarah
Esok kan ku taklukan dunia

Bulan separuh di semenanjung timur
Lampu pijar terlihat di sebuah mercusuar tua


redup senendungkan rindu pada kampung halaman

Friday, October 19, 2012

Puisi, Air Mata Langit

Puisi, Air Mata Langit

Kutunggu Air mata langit jatuh
Lama menantimu yang tak kunjung turun
Kini bumi inginkan kau menangis
Menanti tetesan air mata kebahagian mu
Sapulah semua debu jalanan yang jahir itu

Setiap bulir cinta yang ka jatuhkan adalah mutiara
Yang kami harap anugrah bukanlah musibah
Bukan kesedihan mu yang kami nantikan
Jadikan itu nyata bukanlah bencana

Lama tak kudengar katak katak bernyanyi riang
Sawah dan ladang pun dirundung malang menunggu hari
Esok pun penuh dengan kebimbangan
Menanti pagi
Kering tak ada harapan

Lalu kau pun datang dengan senyuman
Membawakan benih kehidupan di ujung ke putus asaan
Katak sawah dan ladang kembali bernyanyi riang
Semua gembira sambut hari esok yang penuh kebersamaan
Kau jatuhkan butir air mata kebahgian
Hidupkan tunas tunas baru yang gundah gulana

Harum tanah basah tandai hadirnya dirimu
Untukmu ku ucapkan
Selamat datang hujan
Garut 18 Oct 2012

Friday, October 12, 2012

Puisi, Tentang Garut

Puisi, Tentang Garut

Gunung-gunung menjulang tinggi mengepung memagari kota ku
Alam indah mempesona Garut kota intan
Ragam budaya tumbuh dalamm satu kubangan kecil
Udara sejuk mengusir semua sesak dalam dada
Terhampar sawah yang begitu luas

Kota intan seperti kunang-kunang yang terjebak dalam kuali besar
Ribuan lampu neon memendar dalam kepungan gunung gunung yang berwarna kelabu kebiruan
Intanku merangkak dengan pesona alamnya
Swiss van java masa lalu membentuk lanskap yang mempesona

10 Oct 2012
Ketika Guntur Terbangun

Ketika Guntur Terbangun

Guntur masih terlelap
Sosok Guntur menegas kerucut berwarna kelabu
Gersang memberi gambaran seram dan kehancuran
Laksana gemuruh letusannya menyeramkan
Menutupi dataran nan hijau

Ledakan dahsyat menggelegar
Hujan abu dan batu kerikil menhujam jantung kota intan
Hitam samar asap membumbung di angkasa
lahar mengular dari tanah yang berbau menyengat
Kesunyian itu mengingatkan
Semuaanya sunyi senyap

Tiada angin
Tiada kicauan burung bernyayi
Semua menjerit
Alam seperti bungkam
Semua mencekam
Badai Guntur luluh lantahkan segalanya

11 Okt 2012

Thursday, October 11, 2012

Bulan Sabit di Puncak Guntur

Bulan Sabit di Puncak Guntur

Perjalanan semut kecil menuju langit
Menempuh jalan terjal menggapai puncak tertinggi
Pandangan mata elang menyentuh atap-atap dunia
Tinggi khayalan berdiri tegak menatap tata suraya
Berjalan diantara hamparan ilalang berwarna jingga

Tak ada rimba raya
Semua tak sanggup taklukan gersangnya diri mu
Namun kau tetap terlihat gagah menujlang tinggi
Tertidur dan terlelap terjaga dalam mimpi
Setiap ku tatap dirimu selalu dating sebuah harapan
Sekarang esok dan nanti sama saja

Aku ingin kau tetap tertidur
Tidur, tidur dan terlelap untuk selamanya
Ku ingin engkau dengan semua bunga tidurmu
Bunga tidur yang indah seindah bulan sabit diatas langit mu
Meski hanya sekejap dating kemudian pergi
Aku ingin kau tetap begitu
Dan malam itu bulan sabit tenggelam di puncakmu “GUNTUR”

Garut 10 Okt 2012

Monday, October 8, 2012

Ku sambut Senja dan Ku Lepas Kepergianmu

Ku sambut Senja dan Ku Lepas Kepergianmu

Saat ku pandang semu bayang mu
Kau tetap diam dengan misteri mu
Seribu teka-teki kini bersarang dalam hati
Kau hadir tinggalkan tanya yang tak terungkapkan
Tiupan angin senja menerbangkan tanya ku jauh
Jauh sejauh pikirku terhadap mu

Pohon tak berdaun restui takdir kala itu
Lukisan langit hipnotis mata hati dan pikiranku
Sinar tamaran terakhir yang kau pancarkan
Adalah senja sebelum kau datngakan gelap

Terlihat indah memancar di ufuk barat
Kusambut senja dan ku lepas ke pergian mu
Syukur ku ucap atas anugrah terindah yang kau berikan
Menjadi saksi saat kau tenggelam lenyapkan terang

Hingar berlalu
Sepi menyambut bidadari malam
Beranjak dari doa tentang keagungan mu
Lalu pergi tinggalkan kota intan
dengan lambaian pohon yang kehausan
Ku palingkan pandanganku
Kemudian aku berkata
Senja menjadi bukti lukisan tentang betapa besarnya engkau

Friday, October 5, 2012

Puisi, Putri Malam

Puisi, Putri Malam

Rengekan si kerdil riang bersahutan nyanyikan syair kegelapan
Tetesan mutiara kecil jatuh lebih cepat dari hembusan nafasku
Sapaan kebencian membelai raga mengusik lamunanku
Koloni-koloni pemburu hingap beranjak silih berganti
Ah dasar kau penghisap darah

Lamunanku kian meninggi menuju angkasa raya
Oh sungguh istana langit yang sangat indah
Kulihat singgah sana begitu megah
Namun sang putrii terlihat sepi dalam kesendirian
Tergugah asa dan harapan datang dari sebuah celah kecil
Jiwa yang dirantai kesombongan hancur berkeping-keping
Semua lebur dalam tangis sisakan penyesalan
Lalu lantunan kidung doa kupanjatkan pada sang raja langit
Berharap bisa sentuh indahnya bunga teratai di taman surga

Bersandar pada dinding yang penuh harapan
Kulihat hamparan kapas putih coba halangi sinar mu
Sementara jutaan kunang-kunang tak kunjung datang temani kesendirian mu
Langitpun tak berusaha hibur kesepian mu
Dan kau tetap sepi dengen kesedihan mu

Wahai sang putri malam
Dirimu lentera dalam gelap
Sinarmu tak lelah terangi jiwa-jiwa yang rapuh
Kau senandungkan cahaya penuh kasih
tetaplah kau begitu
hingga kau terjaga kala pagi menjelang
karena pangeran akan datang menjeputmu pulang

3 Okt 2012
saat langit cerah pada bulan purnama tanpa bintang

Saturday, October 29, 2011

Keheningan adalah nyanyian Yang Tiada Bertara

Keheningan adalah nyanyian Yang Tiada Bertara

Angin gemuruh pertanda riuh
Rimbunnya daun tempatku berteduh
Nyanyian alam menyapa luka yang tak kunjung sembuh
Wahau kau rimbaku yang angkuh
Kulangkahkan kaki kuu menjauh
Lestarimu janji kupegang teguh

Angin senja berlabuh sepi
Mengiring damai indah dalam langkah hati
Syahdu malam karamkan sinar sang surya menepi
Rintihan sakit membelah jiwa yang sekan mati
Mengikis palaung hati sang pendaki

Surya tenggelam ditawan sang dewi malam
Jelang malam kujemput sang rembulan
Sinarmu laksana bintang hiasi malam
Dan sungguh sampai pagi menjelang
Kan ku kenang kau kala ku pulang

Kupijakan kaki melangkah
Lentera kecil menjadi teman di hutan tak bertuah
Raga yang lelah dengan luka yang masih mengangah
Dalam diam kusandarkan diri yang lelah
Bernaung dibawah langit diujung lembah

Kupaksakan diri susuri rimbanya hutan
Meniti setiap getir di kegelapan
Berselimut kabut dan dinginnya malam
Kurasakan kedamaian jauh dari keramaian
Hiluk pikuk duniawi tak lagi ku hiraukan

Nyanyian alam mu ketenangan jiwa ku
Indah mu manjakan mataku
Mata air mu hilangkan dahaga ku
Hijau mu pertanda subur negri ku
Lestarimu kelangsungan hidup generasi baru

Sinar mentari pagi menerangi sang pengembara
Damaimu membuat ku terjaga
Puncak abadimu menunguku disana
Sang petualang berkata
Keheningan adlah nyanyian yang tiada bertara

Wednesday, July 6, 2011

Ketika aku Mencintaimu

Ketika aku Mencintaimu

Ya Allah, dimana lagikah dapat kutemui cinta sejati?
Kemana lagikah hati ini harus berlabuh?
Kecuali pada kasihmu
jadikanlah hati yang lemah ini
Ya Allah tertambat kukuh hanya pada mu
Aku mohon ridho atas segenap keputusanmu
Kesejukan setelah matiku
Kenikmatan memandang wajahmu
Dan kerinduan untuk berjumpa dengan mu.
Ampunilah diri yang tak berharga ini ya Allah
Penuhilah kehinaannya dengan keindahan magfirah m
Amien

disadur dari novel "ok kita saingan" by Leyla Imtichanah