Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, November 13, 2012

Sejarah Pencinta Alam Serta Perkembangannya

Sejarah Pencinta Alam Serta Perkembangannya

Apabila sejenak kita merunut dari belakang, sebetulnya sejarah manusia tidak jauh-jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah di mana manusia berburu dan mengumpulkan makanan, alam adalah "rumah" mereka. Gunung adalah sandaran kepala, padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh, dan gua-gua adalah tempat mereka bersembunyi. Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya lebih "bermartabat", alam seakan menjadi barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuk tempatnya bersembunyi. Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan tubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya. Manusia dan alam akhirnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.

Ketika keduanya bersatu kembali, maka ketika itulah saatnya Sejarah Pecinta Alam dimulai.
Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat itu belum jelas apakah mereka ini tergolong pendaki gunung pertama. Namun beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itu pemburu yang mendaki gunung. Tapi inilah pendakian gunung yang tertua pernah dicatat dalam sejarah.

Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan "Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju" di Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerja sama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itu, pendakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.

Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu "Perkumpulan Pencinta Alam"(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953. PPA merupakan perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci, terlepas dari 'sifat maniak'yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang perkumpulan ini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di akhir tahun 1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di tanah air mengusulkan istilah pencinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi. "Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?.

"Sejarah pencinta alam kampus pada era tahun 1960-an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan ini mula – mula dikemukakan Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerja bakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, didepan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu Herman O. Lantang yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam.

Setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum, yaitu Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Nama ini diberikan oleh Bpk Moendardjito. Mapala merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Dan Prajnaparamita berarti dewi pengetahuan. Selain itu Mapala juga berarti berbuah atau berhasil. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi. 

Dalam tulisannya di Bara Eka 13 Maret 1966, Soe mengatakan bahwa :
“Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik” Para mahasiswa itu, diawali dengan berdirinya Mapala Universitas Indonesia, membuang energi mudanya dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung. Mapala atau Mahasiswa Pecinta Alam adalah organisasi yang beranggotakan para mahasiswa yang mempunyai kesamaan minat, kepedulian dan kecintaan dengan alam sekitar dan lingkungan hidup. Sejak itulah pecinta alam pun merambah tak hanya kampus (Kini, hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia memiliki Mapala baik di tingkat universitas maupun fakultas hingga jurusan), melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, sudut-sudut perkantoran, lorong-lorong atau kampung-kampung. Seakan-akan semua yang pernah menjejakkan kaki di puncak gunung sudah merasa sebagai pecinta alam.

Dan organisasi pencinta alam pun merambah MAHESA sejak awal berdirinya. Dimulai dari puncak Gunung Bawakaraeng (2.830 Mdpl) pada tanggal 20 Mei 2007(Disepakati sebagai hari jadi MAHESA), oleh 9 orang pendiri Mahasiswa Ekonomi Program Reguler Sore UNHAS (Bintang Hidayat, Hastomo, Fajrul Iman Ibrahim, Apriansyah, Ahmad Nasarudin, Asriadi, Muh.Hisyam, Suhardiman Sultan, dan Armawan Abdullah) yang disetujui oleh M.Arfan yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi Reguler Sore UNHAS(yang di kemudian hari karena bersimpatik ikut bergabung dengan MAHESA dalam Angkatan I), kemudian disusul dengan deklarasi yang diadakan di Puncak Gunung Bulusaraung (1.200 mdpl) pada tanggal 09 September 2007. Dalam perjalanan kali ini ikut serta Arnan Maulana, Seorang Simpatisan (yang kemudian ditetapkan sebagai Simpatisan Pendiri). Pada periode pertama Bintang Hidayat ditetapkan sebagai ketua umum MAHESA.

MAPALA, Konsekuensi yang harus dihadapi dari sebuah konsistensi
Apa yang diharapkan dengan mengikuti sebuah organisasi bernama MAPALA? Banyak memandang sebelah mata pada organisasi ini dan terkadang mengatakan bahwa kegiatannya hanya bersifat hura-hura yang menghabiskan uang. Suara itu semakin santer terdengar bila ada pemberitaan mengenai kecelakaan yang dialami oleh anggota Mapala pada waktu melakukan kegiatan di alam.

Dalam sebuah diskusi (mengutip dalam artikel Kompas, Minggu 29 Maret 1992) kegiatan Mapala dapat di kategorikan sebagai olahraga yang masuk ke dalam kaliber sport beresiko tinggi. Kegiatannya meliputi mendatangi puncak gunung tinggi, turun ke lubang gua di dalam bumi, hanyut berperahu di ke derasan jeram sungai deras, keluar masuk daerah pedalaman yang paling dalam dan lainnya. umumnya kegiatan Mapala berkisar di alam terbuka dan menyangkut lingkungan hidup. Jenis aktivitas meliputi pendakian gunung (mountaineering), pemanjatan (climbing), penelusuran gua (caving), pengarungan arus liar (rafting), penghijauan dan lain sebagainya. 

Tak ayal lagi bahwa kegiatan ini beresiko tinggi dan setiap anggotanya harus memahami konsekuensi resiko yang dihadapi dengan bergabung dengan organisasi ini. Resiko yang paling berat adalah cacat fisik permanen dan bahkan kematian. Untuk bisa mempersiapkan diri menghadapi resiko yang tinggi ini, dibutuhkan kesiapan mental, fisik dan skill yang memadai. Berbagai macam latihan dan pengalaman terjun langsung ke alam dapat meminimalisir resiko yang akan dihadapi. Tapi, di luar semua itu masih ada yang lebih berwenang untuk menentukan hidup dan mati seseorang.

MAPALA, Pencinta alam atau Petualang ? Dua nama, pencinta alam dan petualang seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya. Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsb. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan di mana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam. Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup “istilah” saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas Adventure-nya seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya. 

Kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam? begitu pun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. 

Bahkan Tak jarang aktivitas “mereka” berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak mereka pun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka. keberadaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu di citrakan, dengan demikian banyak diantara para “pencinta alam” itu Cuma sebatas “gaya” yang menggunakan alam sebagai alat.

sumber, Buku Panduan Diklatsar PAGAR 2009

Monday, October 29, 2012

Ini Dia Alasannya Kenapa Malam Minggu Disebut Malam yang Panjang

sobatadventure.com Malam minggu adalah malam yang banyak di tunggu-tunggu oleh banyak orang termasuk oleh saya yang selalu menantikan datangnya malam Minggu. Banyak hal yang bisa dan biasa dilakukan di malam Minggu salah satunya yaitu ngapelin pacar. Bagi sebagian orang atau bahkan semua orang malam minggu adalah malam yang spesial, dan saking spesialnya bayak orang yang bilang, “malam Minggu adalah malam yang panjang”. Namun bila dibandingkan dengan malam-malam yang lainya tidak ada perbedaan sama sekali dan semuanya sama. Namun begitulah malam Minggu, seperti telah kita ketahui bersama banyak orang yang telah mengklaim dan menyebutnya sebagai malam yang panjang, dan inilah beberapa alasannya kenapa malam Minggu disebut ssebagai malam yang panjang.

Yang menjadi penyebab ternya karena besok hari Minggu, sedangkan hari minggu adalah hari libur. Kebanyakan aktivitas seperti aktivitas kerja, sekolah dan kuliah itu libur pada hari Minggu dan hari sabtu merupakan hari terakhir dari serangkaian kegiatan tersebut. Ini membuat banyak orang senang karena bisa bebas melakuan aktivitas apa saja dengan tidak cepat-cepat tidur. Begadang adalah salah satu kegiatan yang menjadi langganan pada malam Minggu. Orang yang di malam selain malam minggu biasa tidur jam 10 malam, di malam Minggu bisa tidur jam 12 atau bahkan melek sampai pagi menjelang. Karena besoknya libur jadi tidak ada tuntutan untuk besok bangun pagi-pagi buat bekerja, sekolah ataupun kuliah jadi bisa berleha-leha dengan tidur seharian. Nah mungkin itulah alasanya kenapa malam Minggu disebut malam yang panjang.
Dan selamat bermalam Mingu

Tuesday, October 16, 2012

Sejarah Letusan Gunung Papandayan

sobat adventure - Kegiatan gunung api Papandayan yang tercatat dalam sejarah yakni sejak tahun 1772 hingga tahun 1927 berikut adalah rinciannya:
Gunung Papandayan Garut



  • Tahun 1772, pada tanggal 11-12 Agustus terjadi letusan dari kawah pusat awan panas atau yang lebih dikanal sebagai wedus gembel yang memakan korban jiwa sebanyak 2951 dan menghancurkan 40 perkampeungan disekitar kaki Gunung Papandayan.
  • Tahun 1882, 28 Mei terdengar gemuruh yang terus menerus dari arah utara Kampung Campaka Warna dan di duga dari Gunung Papandayan.
  • Tahun 1923, 11 Maret terjadi letusan lumpur disertai lontaran batu vulkanik. Melontarkan hingga jarak 150 m, dari letusan tersebut menhasilkan tujuh buah lubang letusan dalam kawah baru dan letusan didahului oleh gempa bumi yang terasa hingga cisurupan, 25 Januari Kawah Mas suhunya naik dari 364 derajat menjadi 500 derajat kemudian terjadi letusan lumpur di Kawah Mas dan di Kawah Baru pada tanggal 16 Desember. Terdengar suara gemuruh dan ledakan dari Kawah Baru. Hutan disekitar kawah menjadi gundul karena tertimpah  bahan lontaran (batu dan lumpur). Bahan lontaran tersebut dilontarkan ke arah timur, dan lumpurnya hampir mencapai kampung Cisurupan.
  • Tahun 1925,    21 Februari, terjadi letusan lumpur pada Kawah Nangklak, disusul dengan semburan lumpur disertai dengan emisi gas kuat. 
  • Tahun 1926, Terjadi letusan phreatik (mengandung lumpur dan sulfur) di Kawah Mas.
  • Tahun 1927, Di Kawah Mas terjadi letusan phreatik yang terdiri dari lumpur campur belerang. Di Kawah Baru, terjadi letusan lumpur belerang 
  • Tahun 1928, Tanggal 16-18  Februari, terjadi kenaikan temperatur di Kawah Mas 
 
  • Tahun 1942, Tanggal 15-16 Agustus, Di Kawah Mas terbentuk kawah baru
  • Tahun 1993, Tanggal  15 Juli, Di Kawah Baru terjadi peristiwa letusan lumpur.
  • Tahun 1993 – sekarang Kegiatan G. Papandayan terbatas pada kepulan asap fumarola dan solfatara serta bualan lumpur dan air panas di sekitar Kawah Mas dan Kawah Baru (kawah termuda G.Papandayan).
Kawah hasil letusan G. Papandayan
Karakter letusan Gunung  Papandayan, adalah berupa erupsi eksplosif preatomagmatik berskala menengah (dimanifestasikan oleh sejumlah endapan aliran dan jatuhan piroklastik).  Secara berangsur, kekuatan erupsi G. Papandayan melemah dan cenderung menghasilkan erupsi epusif magmatik (dimanifestasikan oleh sejumlah leleran lava berkomposisi andesit – andesit basaltik)


Periode letusan G. Papandayan berkisar antara 1 dan 151 tahun, dengan rincian berikut: setelah meletus pada tahun 1772, letusan berikutnya adalah tahun 1923. Setelah letusan 1923, ritme letusan semakin sering, yakni pada tahun 1924, 1925, dan terakhir pada tahun 1926. Setelah tahun 1923, tidak terjadi lagi letusan dari Kawah Mas (kawah pusat termuda G.Papandayan) 


Tipe letusan G. Papandayan adalah letusan eksplosif (pada awal pembentukkan, dimanifestasikan dengan sejumlah endapan aliran dan jatuhan piroklastik) dan letusan epusif (dimanifestasikan dengan sejumlah leleran lava berkomposisi andesit – andesit basaltik).

Sumber: http://infopaguci.blogspot.com/2014/12/sejarah-letusan-gunung-papandayan.html

Monday, October 15, 2012

Sejarah Pendakian Gunung Guntur


sobat adventure - Semakin mendaki puncak kota Garut semakin samar, sebaliknya sosok Gunung Guntur  menegas seperti kerucut batu yang berwarna kelabu memberi gambaran seram dan mencekam. Gundul gersang dan tandus liar dan panas. Sama seperti mendakinya ternya menuruni Guntur ternyata lebih susah dan merepotkan. Langkah kaki sering terpeleset dan ter jatuh karena jalur yang licin dan hanya berpegangan pada seutas ilalang. Pendakian Gunung adalah siksaan. Itulah gambaran setelah saya beberapa kali mendaki Gunung Guntur. Berikut adalah sejarah pendakian Gunung Guntur.

Gunung Guntur pertama kali didaki oeleh pendaki berkebangsaan  Jerman, Dr. Frans Wilhelm Junghuhn pada tahun1837. Pada saat itu F Junghuhn memasukan Gunung Guntur sebagai gunung api terakatif di Pulau Jawa pada waktu itu setelah Gunung Lamongan di Jawa timur, adapun Gunung Merapi menempati urutan ke tiga.

Friday, October 12, 2012

Sejarah Letusan Gunung Guntur

sobatdventure.com - Dari beberapa situs web dan blog yang saya baca tentang sejarah letusan Guntur Garut ternyata Gunung Guntur Garut merupakan salah satu gunung paling aktif pada dekade  1800-an. Akan tetapi setelah itu kini aktivitasnya menurun. Menurut sejarah letusannya pertama kali terjadi pada tahun 1690 sedangkan etusan terakhirnya meletus pada tahun 1847. Letusan terbesar terjadi pada tahun  1840 dimana lava yang keluar mengalir sampai ke Cipanas yang berjarak 3 Km dari kawah Gunung Guntur.

Selama kurun waktu 1800-1847 Gunung Guntur tercatat meletus 21 kali. F Junghuhn (1850) menggambarkan Gunung Guntur sebagai gunung api terakatif di Pulau Jawa pada waktu itu setelah Gunung Lamongan di Jawa timur, adapun Gunung Merapi menempati urutan ke tiga. Gunung Guntur meletus dibarengi suara gemuruh melontarkan batu, pasir, dan batu vulkanik.

Gunung Guntur dahulunya merupakan gunung yang paling di takuti oleh masyarakat kota Garut. Namun kini, bahaya dari Gunung Guntur  tak banyak disadari masyarakat karena Gunung Guntur sudah tertidur lelap selama 165 tahun.


Baca Juga

Friday, October 5, 2012

Gunung Gede, Sejarah Letusan Gunung Gede

sobatadventure.com - Dari papan informasi yang saya baca di information centere saat mengunjungi kawasan Taman NasionalGunung Gede Pangrango TNGGP ternyata letusan Gunung Gede pertama tercatat tahun 1747. Yang paling dahsyat terjadi antara bulan November 1840-Maret 1841. Pada bulan Desember 1840, lidah apinya menyembur keluar kawasan setinggi lebih dari 200 m. Hujan kerikil dan awan debu menyertai kejadian itu. Letusan terakhir terjadi tahun 1848, dengan beberapa kejadian kecil sampai tahun 1957. Lubang di kawah Gunung Gede masih mengeluarkan gas belerang sampai saat ini. Keasamannya mempengaruhi vegetasi di sekitaran kawah. Titik letusan gunung yang relatif baru, membuat lubang yang sangat luas di pinggiran Kawah Mandalawangi lama. Seandainya dahulu terjadi letusan yang lebih besar, mungkin  laharnya akan langsung mengalir menuju Cibodas.
Letusan Gunung Gede pada masa lampau telah mengubah vegetasi yang sangat luas, tetapi telah memperkaya terhadap tambahan mineral. Hutan dataran rendah merupakan kawasan tertutup, yaitu dengan masukan atau lepaskan nutrisi alam yang sangat sedikit. Hutan di Gunung Gede itu berada di dalam system terbuka: tanah tercuci oleh hujan, dan sungai dipenuhi oleh bebatuan yang hancur serta oleh semburan debu vulkanik. Tanah di lereng yang lebih rendah mendapatkan kesuburan karena cuaca dan adanya kegiatan biologis. Oleh karena itu, tanah tersebut lebih kaya lumpur dan humus dari pada tanah dikawasan yang lebih tinggi.Sementara itu Gunung Gede berumur lebih muda dibandingkan dengan teman di sebelahnya Gunung Pangrango, Gunung Pangrango juga lebih luas dan sudah tidak aktif.
Nambah nih Sob!
Gunung Gede dan Pangrango keduanya termasuk 'MUDA', sebagai generasi gunung api yang ke empat yang terbentuk kira-kira tiga juta tahun. Terakhir. Gunung Gede memiliki ketinggian 2.985 m diatas permukaan laut (dpl.). Dalam kondisi cerah, dinding kawah dapat dilihat. Gunung Pangrango memiliki ketinggian 3.019 mdpl. Puncaknya yang seperti lengkukan pelana, menghubungkan kedua puncak, dengan ketinggaian 2.400 mdpl.  Jika sobat memandang ke kompleks gunung berapi tersebut, pandangan sobat akan melintasi tiga tipe hutan:
  • Sub Montana (1200-1500 mdpl): batas taman nasional Gunung Gede Pangrango sampai ke Danau Biru atau Telaga Warana.
  • Montana (1500-2400 mdpl): Danau Biru atau Telaga Warna keatas sampai ke Pegunung pelana.
  • Subalpin (2400-3019 mdpl): Pegunung pelana sampai ke puncak

Thursday, June 2, 2011

Sejarah Kampung Citilu

Sejarah Kampung Citilu

Pada tahun 1913 ada seseorang yang bernama Madhapi, Madhapi tinggal di salah satu kampung yaitu kampung Cihanjawar. Madhapi mempunyai keahlian menyadap pohon kawung (mengambil air nira pada pohon aren untuk kemudian dijadikan gula merah atau gula aren) dari keahliannya itu Madhapi bekerja sebagai tukang sadap.

Pada suatu hari, ktika Madhapi menjalankan kegiatan sehari-harinya yaitu menyadap pohon aren. Madhapi mulai bingung mencari pohon aren yang akan di sadap karena pohon aren di kampungnya itu sudah hampir semuanya ia sadap untuk diambil air nirnya. Kemudian Madhapi mencari ke sana kemari mencari pohon aren sampai akhirnya Madhapi tiba di suatu tempat yang berlembah yang banyak ditumbuhi pohon aren. Madhapi sangat senang menemukan tempat baru itu karena ia bisa menambah penghasilan dari menyadap. Madhapi mempunyai saudara laki-laki yang bernama al-Haif dan panggilan akrabnya adalah Mama Al-haif. Mama Al-haif bisa di katkan orang yang taat beribadah di kampung Cihanjawar atau di masa sekarang lebih trend dengan sebutan ustad. Kemudian setelah menemukan tempat tersebut Madhapi langsung bergegas pulang dan menceritakan soal tempat baru yang ditemukannya tadi siang kepada Mama Al-Haif. Esok harinya Madhapi Dan Mama Al-haif bergegas untuk mendatangi tempat yang banyak ditumbuhi pohon aren itu. Sesampainya ditempat itu semua peralatan untuk menyadappun dikeluarkan oleh keduanya dan langsung memanjati pohon aren satu persatu. hampir setiap hari Madhapi dan mama Al-Haif mengambil air nira ditempat itu. Kemudian kabar tentang keberadaan tempat itu pun meluas di kalangan tukang sadap sampai akhirnya diketahui oleh semua warga kampung Cihanjawar dan sebagian dari mereka memutuskan untuk bermukim dan menetap ditempat itu.

Pada suatu ketika Mama Al-haif hendak berangkat berziarah ke kota Cirebon ke makam Syekh Syarif Hidayatulloh untuk beberapa hari lamanya. Sepulang dari Cirebon Mama Al-Haif membawa sebuah kendi kecil yang berisikan air, kendi yang ditemukan di makam Syekh Syarif Hidayatulloh setelah sebelumnya ia bermimpi bertemu dengan Syekh Syarif Hidayatulloh dan beliau berkata kepada Mama Al-haif  "sepulang dari sini bawalah air dalam kendi itu kemudian ditanamkan ditempat yang telah ditemukan saudaramu, tanamlah di bawah pohon pisang, tanamlah pada malam hari tepat pada tanggal 14 Mulud dan bertawasulah kepadanya untuk mendapatkan sumber matair baru".  Setibanya di tempat yang banyak ditumbuhi pohon aren Mama al-Haif menjalankan semua perintah yang didapat dari mimpinya itu. Air dalam kendi itu ditanam di bawah pohon pisang di sebuah tempat dimana warga menyebutnya dengan sebutan Cisaladah. Malam itu tepat pada malam hari tanggal 14 Mulud Mama al-Haif pun bermunajat dan bertawasul kepada Allah S.W.T selama kurang lebih tujuh hari tujuh malam dengan harapan bisa muncul sumber mata air baru ditempat tersebut.

Atas rahmat Allah dengan syareatnya menanam air dibawah pohon pisang akhirnya setelah hampir satu minggu air pun mulai perlahan keluar dari sela-sela akar pohon pisang. Air yang keluar dari bawah pohon pisang itu terus mengeluarkan air yang jernih hingga lama kelamaan membentuk sebuah aliran sungai kecil yang alirannya mengalir ke dua sungai yang telah ada sebelumnya yaitu sungai Ciganggaong dan sungai Patapaan. Sejak itulah sungai ditempat itu bertambah satu menjadi tiga aliran sungai, aliran ketiga sungai itu mengalir ke sunga yang lebih besar yaitu ke sungai Ciudian dan aliran dari sungai Ciudian mengalir jauh hingga ke kecamatan Singajaya.

Dengan bertambahnya satu sungai ditempat itu menjadi tiga sungai yaitu sungai Cigangaong, sungai Patapan dan sungai baru yang diberi nama sungai Cisaladah, akhirnya warga yang menetap di tempat itu dan waraga di kampung tetangga menyebut tempat itu dengan sebutan Citilu, Ci artinya cai atau dalam bahasa Indonesianya berati air dan tilu artinya tiga, nah mungkin dari kejadian itulah kampung tersebut disebut dan dikenal dengan sebutan kampung Citilu. Kemudian selanjutnya kenapa air dalam kendi itu ditanam di Cisaladah karena pada masa iitu di Cisaladah banyak ditumbuhi tanaman air yaitu Saladah. Saladah adalah sejenis tanaman air yang biasa dikonsumsi dengan sambal atau lebih dikenal dengan lalapan. Dari kejadian itu setiap malam 14 mulud para warga memperingatinya dengan mandi di sungai Cisaladah. akan tetapi kebiasan tersebut mulai jarang bahkan sekarang sudah tidak dilakukan oleh para warga kampung Citilu karena para sesepuh dan orang tua yang terdahulu yang biasa melakukan kegiatan mandi pada malam tanggal 14 Mulud di sungai Cisaladah telah tiada oleh karena itu kebiasaan mandi pun sudah tidak dilakukan lagi oleh warga kampung Citilu sampai saat ini.

Artikel Terkait: